Tren Game 2025: Gelombang Baru Gameplay “Souls-like” dan “Roguelite” yang Menyita Perhatian Gamer Indonesia

Memasuki akhir tahun 2025, lanskap gaming di Indonesia terus bergerak dinamis. Berdasarkan analisis terhadap pola pencarian, diskusi komunitas, dan engagement di platform seperti YouTube Gaming dan Twitch, terlihat jelas bahwa minat gamer tanah air telah bergeser dari sekadar grafis memukau menuju kedalaman mekanik dan kepuasan mastering skill. Dua genre yang mendominasi pembicaraan adalah adaptasi dan evolusi dari Souls-like dan Roguelite, yang kini diracik dengan elemen-elemen baru yang lebih accessible namun tetap menantang. Tren ini bukan lagi sekadar tentang kesulitan ekstrem, tetapi tentang “kepuasan yang terukur”—di mana setiap kematian dan setiap kemenangan terasa sebagai progresi pembelajaran yang personal.
Fenomena ini didorong oleh kesuksesan beberapa judul yang rilis sepanjang 2024-2025, seperti “Echoes of the Spire” dan “Vessel: Reforged”, yang berhasil menemukan formula pas antara challenge, narasi lingkungan (environmental storytelling), dan loop gameplay yang adiktif. Gamer Indonesia, yang dikenal memiliki komunitas yang solid dan suka berbagi strategi, menemukan ladang subur dalam genre-genre ini. Mereka tidak hanya menikmati tantangannya, tetapi juga proses mendiskusikan build, strategi melawan bos, dan menemukan rahasia tersembunyi—sebuah nilai sosial yang melekat kuat dalam budaya gaming lokal.
Mengapa “Souls-like” dan “Roguelite” Kini Lebih Diminati?
Ada pergeseran selera yang mendasar. Jika sebelumnya game triple-A dengan cerita linear dan set piece spektakuler menjadi primadona, kini banyak pemain mencari pengalaman yang lebih rewarding secara intrinsik. Genre Souls-like modern tidak lagi sekadar meniru FromSoftware secara buta. Developer kini menyuntikkan lebih banyak opsi kesulitan yang dapat disesuaikan, sistem checkpoint yang lebih ramah, dan narasi yang sedikit lebih terbuka. Hal ini mengurangi frustration barrier yang sering dikeluhkan pemain kasual, tanpa mengorbankan rasa pencapaian saat mengalahkan bos yang sulit.
Sementara itu, Roguelite menawarkan “kebebasan dalam struktur”. Setiap run adalah cerita baru. Untuk gamer Indonesia yang sering memiliki waktu bermain terbatas karena kesibukan, struktur run-based ini sempurna. Mereka bisa menyelesaikan satu atau dua run dalam satu sesi singkat dan tetap merasa mengalami progres melalui sistem meta-progression seperti penguatan permanen atau unlock karakter baru. Kombinasi antara keterampilan tangan (mechanical skill) dan kemampuan membuat keputusan strategis (strategic decision-making) dalam setiap run menjadi daya tarik utama.
Spotlight pada Judul yang Sedang Naik Daun
Beberapa game menjadi bukti nyata tren ini dan layak untuk kamu waspadai, atau mungkin sudah ada di library-mu.
1. Vessel: Reforged
Game action RPG Souls-like ini mungkin adalah penerus spiritual yang dinantikan banyak fans. Yang membedakannya adalah sistem “Memory Shard”. Setelah dikalahkan, bos tidak hanya memberikan souls/exp, tetapi juga “serpihan memori” yang bisa ditanamkan ke senjata untuk benar-benar mempelajari dan menggunakan satu atau dua move spesifik sang bos. Ini menciptakan lapisan strategi build-crafting yang sangat dalam. Komunitas Indonesia sedang sibuk membahas kombinasi shard paling optimal untuk tipe permainan agresif atau defensif.
2. Aetherfall (Genre: Roguelite Deckbuilder dengan Action Element)
Bayangkan Slay the Spire bertemu dengan Hades. Di sini, kamu membangun dek kartu yang mewakili skill, serangan, dan mantra. Namun, eksekusinya bukan turn-based, melainkan real-time action. Kamu harus secara aktif menghindar, menyerang, dan memicu kartu di tengah pertempuran yang kacau. Game ini sangat populer di kalangan content creator Indonesia karena nilai tontonannya yang tinggi dan kedalaman strateginya yang luar biasa.
3. Sundered Isles (Genre: Souls-like Metroidvania dengan Setting Nusantara-inspired)
Inilah contoh sempurna localization yang mendalam. Developer indie dari Singapura (dengan tim yang termasuk orang Indonesia) menciptakan dunia yang terinspirasi dari mitologi dan arsitektur Nusantara. Musuh-musuhnya bukan orc atau goblin, tetapi makhluk-makhluk dari legenda seperti Jin pengganggu atau Garuda yang perkasa. Gameplay-nya menawarkan eksplorasi non-linear yang khas Metroidvania dengan intensitas pertempuran ala Souls. Game ini mendapatkan perhatian besar karena representasi budayanya yang autentik, bukan sekadar tempelan kulit.
Dampak pada Komunitas dan Content Creation
Tren ini telah memicu ledakan kreativitas di komunitas. Platform seperti TikTok dan YouTube Shorts dipenuhi dengan konten “tips singkat mengalahkan bos X”, “build murah meriah untuk early game”, atau “kesalahan fatal pemula di game Y”. Format konten ini sangat cocok dengan kebiasaan konsumsi media gamer Indonesia yang cepat dan ingin langsung ke inti.
Selain itu, munculnya “guide makers” lokal yang sangat dihormati. Mereka tidak hanya sekadar menerjemahkan guide dari luar, tetapi menciptakan analisis yang kontekstual, mempertimbangkan playstyle rata-rata gamer lokal dan bahkan terkadang menyelipkan humor atau referensi budaya Indonesia yang relateable. Ini membangun otoritas dan kepercayaan (EEAT: Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) yang sangat penting dalam ekosistem informasi gaming.
Prediksi ke Depan dan Peluang bagi Gamer Indonesia
Tren ini diperkirakan akan tetap kuat hingga tahun 2026. Kita akan melihat lebih banyak game yang mengadopsi philosophy “sulit tapi adil” dengan sistem tutorial yang lebih baik dan kurva kesulitan yang lebih terkelola. Elemen roguelite juga akan semakin banyak disisipkan ke dalam genre lain, seperti RPG atau bahkan game simulasi.
Bagi gamer Indonesia, ini adalah era keemasan untuk terlibat lebih dalam. Tidak cukup hanya menjadi player pasif. Peluangnya terbuka lebar: menjadi bagian dari komunitas diskusi, berbagi pengetahuan, membuat konten guide, atau bahkan memberikan masukan kepada developer indie lokal yang mulai merambah genre ini. Kemampuan untuk menguasai mekanik kompleks dan menyampaikan strategi secara efektif akan menjadi aset berharga.
Intinya, gelombang Souls-like dan Roguelite yang sedang terjadi mencerminkan kematangan pasar gamer Indonesia. Kita telah melampaui fase terpukau oleh grafis dan mencari pengalaman yang lebih substantif, menantang, dan membanggakan saat berhasil ditaklukkan. Ini adalah sinyal yang sehat bagi industri game secara keseluruhan, yang mendorong developer untuk fokus pada kedalaman gameplay dan pembangunan komunitas, bukan hanya pada polesan permukaan.