Tren Game 2026: Dominasi Genre Survival Open-World dan Kebangkitan RPG Klasik

Memasuki akhir tahun 2025, lanskap gaming Indonesia terus bergerak dinamis. Berdasarkan analisis terhadap pola pencarian, diskusi komunitas, dan aktivitas di platform streaming seperti YouTube Gaming dan Nimo TV, dua tren besar sedang mengkristal dan diprediksi akan mendominasi tahun 2026: eksplorasi mendalam dalam game survival open-world dan nostalgia yang dihidupkan kembali melalui remake serta sekuel dari RPG klasik. Pemain Indonesia tidak hanya mencari sensasi aksi, tetapi juga pengalaman bermain yang imersif, penuh cerita, dan memiliki nilai ‘kesengajaan’ yang tinggi.
Survival Open-World: Dari Sekadar Sintas Menuju Membangun Peradaban
Genre survival open-world telah lama populer, namun tren 2026 menunjukkan pergeseran fokus. Pemain tidak lagi puas hanya dengan mengumpulkan sumber daya dan bertahan dari ancaman. Kini, elemen “base-building” yang kompleks dan dinamis menjadi daya tarik utama. Game seperti “Nightingale” dan “Sons of the Forest” telah memicu minat, tetapi gelombang berikutnya adalah tentang ekosistem dunia yang hidup dan sistem crafting yang mendalam.
Yang dicari oleh komunitas game Indonesia adalah dunia yang benar-benar bereaksi terhadap keputusan pemain. Misalnya, membangun benteng tidak hanya untuk bertahan dari serangan malam hari, tetapi juga mempengaruhi pola migrasi makhluk liar atau menarik perhatian faksi NPC tertentu yang bisa menjadi sekutu atau musuh baru. Sistem cuaca dan musim yang ekstrem, yang memaksa pemain untuk merencanakan pertanian dan logistik jangka panjang, juga menjadi fitur yang sangat dinantikan. Tren ini mencerminkan keinginan untuk ‘kepemilikan’ dan ‘dampak’ yang lebih besar dalam dunia virtual, sebuah ruang di mana kreativitas dan strategi jangka panjang dihargai.
Kebangkitan Era Keemasan RPG: Nostalgia dengan Visual dan Gameplay Modern
Di sisi lain, industri game sedang menyaksikan kebangkitan luar biasa dari franchise Role-Playing Game (RPG) klasik. Tahun 2025 ini diwarnai dengan kesuksesan besar beberapa remake, dan ini hanyalah pemanasan untuk tahun 2026. Developer besar seperti Square Enix, Capcom, dan Bandai Namco secara agresif menggali warisan IP mereka.
Bagi gamer Indonesia yang tumbuh dengan PlayStation 2 atau PC era 2000-an, ini adalah jawaban dari doa mereka. Namun, yang menarik, remake ini tidak sekadar mengecat ulang grafis. Pendekatan yang sedang tren adalah “reimajinasi kontemporer”. Artinya, alur cerita inti dan karakter yang dicintai dipertahankan, tetapi sistem pertarungan diperbarui total menjadi lebih dinamis (dari turn-based ke action-based), side quest diperdalam, dan dunia game diperluas secara signifikan. Contoh sukses seperti “Final Fantasy VII Rebirth” telah membuktikan bahwa formula ini tidak hanya memuaskan fans lama tetapi juga menarik generasi baru pemain.
Sorotan untuk Gamer Indonesia: “Project Ethos” dan “Ascent of the Fallen”
Berbicara tentang tren konkret, dua nama yang paling banyak dibicarakan di forum lokal seperti Kaskus dan Discord komunitas game Indonesia adalah “Project Ethos” dan “Ascent of the Fallen”.
“Project Ethos” (nama kode) dari sebuah studio indie Eropa dikabarkan akan menggabungkan kedua tren ini menjadi satu paket epik: sebuah RPG dengan dunia terbuka yang sangat luas dan sistem survival yang brutal. Bocoran yang beredar menyebutkan game ini akan memiliki narasi yang ditentukan sepenuhnya oleh pilihan pemain, dengan konsep “setiap keputusan memiliki konsekuensi permanen”, termasuk kematian karakter utama yang tidak dapat diulang. Kesulitan ekstrem dan dunia yang tidak memaafkan ini justru menjadi magnet bagi pemain hardcore Indonesia yang haus akan tantangan bermakna.
Sementara itu, “Ascent of the Fallen” diumumkan sebagai remake resmi dari RPG kultus Asia tahun 2008 yang sangat populer di Indonesia. Developer utamanya telah bermitra dengan tim lokal untuk memasukkan elemen budaya Asia Tenggara yang lebih otentik ke dalam dunia game, sebuah langkah yang sangat diapresiasi oleh komunitas. Pengumuman kemitraan ini menjadi berita utama karena menunjukkan pengakuan pasar Indonesia yang semakin matang oleh publisher global.
Implikasi bagi Komunitas dan Konten Kreator
Tren ini membawa angin segar bagi konten kreator game Indonesia. Game survival open-world yang kompleks adalah ladang emas untuk konten tutorial “how-to”, guide crafting tingkat lanjut, dan seri video membangun basis yang megah. Sementara itu, kebangkitan RPG klasik membuka peluang untuk konten analisis lore perbandingan antara versi lama dan baru, serta walkthrough untuk menyelesaikan quest rahasia yang ditambahkan dalam remake.
Platform live streaming juga akan diramaikan dengan sesi marathon eksplorasi dunia terbuka yang luas atau reaksi emosional pemain saat menyaksikan momen ikonik dari masa kecil mereka dihidupkan kembali dengan grafis mutakhir. Interaksi antara streamer dan penonton dalam menghadapi tantangan survival atau memecahkan teka-teki naratif kompleks akan menjadi konten yang sangat engaging.
Menyambut 2026: Tahun Penuh Eksplorasi dan Kenangan Baru
Sebagai pasar game mobile terbesar di dunia, selera gaming Indonesia terus berkembang. Tren untuk 2026 menunjukkan kematangan ini: pemain menginginkan pengalaman yang lebih dalam, lebih personal, dan lebih menantang. Mereka ingin tidak hanya memainkan sebuah game, tetapi juga tinggal di dalam dunianya, membentuk ceritanya, dan merasakan nostalgia yang dihidupkan dengan cara yang segar.
Baik Anda sebagai pemain yang siap menghabiskan ratusan jam untuk membangun peradaban di tengah alam liar yang berbahaya, atau sebagai fans yang ingin kembali ke petualangan masa kecil dengan kacamata baru, tahun 2026 menjanjikan sebuah perjalanan yang memuaskan bagi setiap tipe gamer. Kedua tren ini, meski tampak berbeda, pada intinya berbicara tentang hal yang sama: keinginan untuk pengalaman bermain yang bermakna, imersif, dan meninggalkan kesan yang lama setelah konsol atau PC dimatikan.